Wednesday, 8 February 2017

PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN ACEH


        Pendidikan yaitu sebuah kewajiban yang harus ditempuh oleh setiap manusia didalam kehidupannya. Melalui pendidikan akan terlahirnya individu baru yang di penuhi dengan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan manusia bisa menciptakan hal baru yang mampu melengkapi kebutuhannya dan dapat membedakan mana yang memang harus disalahkan dan mana memang yang harus di benarkan. Tetapi jangan heran pula kenapa banyak orang pintar yang sudah berpendidikan tinggi tapi lebih rendah dari orang yang tidak berpendidikan sekalipun, contohnya koruptor. Itu manusia berpendidikan tapi tidak terdidik, bisa dikatakan akhlak baiknya itu berkurang kadang memang tidak ada sama sekali. Mereka tergiur akan uang tetapi tidak memikirkan bagaimana kelakuan mereka lebih rendah dari orang yang tidak berpendidikan. Masalah seperti ini tidak ada sangkut pautnya dengan pendidikan, itu semua ada pada diri sendiri. Kejahatan itu bukanlah pilihan, kita bebas hidup dan memilih yang terbaik untuk diri sendiri didalam hidup  ini dan kita mau kearah mana pilihannya ditangan kita masing-masing.  

        Kebudayaan itu ada kaitannya dengan pendidikan. Semua orang pasti tau apa itu kebudayaan. Kebudayaan adalah hasil buah pemikiran masyarakat sekitar yang dikembangkan secara turun temurun. Kebudayaan berhubungan erat dengan pendidikan, dimana melalui pendidikanlah masyarakat modern bisa mentransfer budaya mereka agar bisa bertahan dari generasi ke generasi. Kebudayaan dan pendidikan saling bergantungan satu sama lain, mereka saling tarik menarik umpanya magnet.

         Di aceh sendiri memiliki berbagai budaya dengan pendidikan yang berkembang. Aceh memiliki masalah dengan pendidikan, sekarang pendidikan aceh tertinggal jauh dengan pendidikan di daerah lain tingkat nasional. Itu disebabkan ada beberapa masalah didalamnya yang harus segera ditindaklanjuti oleh pemerintah. Bisa dikatakan pemerintah sangat berperan dalam pembangunan gedung-gedung sekolah yang mana menghabiskan milyaran atau bahkan triuliunan untuk pembangunan tersebut. Dan hasilnya iya, menghasilkan gedung-gedung bertingkat itu bagus. Tapi lebih bagus nya lagi jika pemerintah lebih memperdulikan siswa-siswi dan guru di sekolah, karena itu jauh lebih penting. Untuk apa bangunan menjulang menempuh awan jika orang didalamnya masih bodoh tidak ada gunanya.


Kualitas pendidikan itu jauh lebih penting dari pada kuantitas gedung sekolah. Jika kualitas pendidikan sudah maju, maka tempat pendidikan itu akan mengikutinya, dan jika kuantitas gedung sekolah bertingkat dan bagus belum tentu orang yang didalamnya sebagus gedung itu. Pemerintah dalam bertindak harus melihat dulu apa yang memang perlu di kembangkan di aceh ini. Misalnya di dalam pendidikan sekarang itu masih banyak guru SD yang tamatan SD juga, yang seperti inilah perlu dipertimbangkan secara bijak. Seharusnya yang namanya guru itu telah menempuh pendidikan, layaknya disebut seorang guru. Pastinya sudah berpengalaman dan penuh dengan ilmu pengetahuan. Jadi saat mengajarpun tau sistemnya bagaimana dan aturannya. Dan jika pendidikan aceh tertinggal jauh di tingkat nasional jangan salahkan siswa ataupun siswinya, lihatlah siapa yang mengajarkannya apa orang yang tamatan SD atau SMP atau bahkan yang tidak berpendidikan jadi apa yang mau diajarkan. Pemerintah tau bagaimana menyelesaikan masalah ini secara baik-baik, dimana tidak ada yang merugikan salah satunya. Jika masalah cepat terselesaikan, dengan pendidikan baru aceh akan maju.


 Selain pendidikan yang mengalami masalah, aceh juga mempunyai masalah dengan kebudayaan. Dengan zaman berteknologi jangan salahkan jika budaya tertinggal jauh terbukti di aceh. Dulunya terdapat bermacam-macam budaya di Serambi Mekkah ini, tapi sekarang sudah samar-samar bahkan ada yang hilang. Orang dulu bersusah payah menciptakan sesuatu untuk generasi penerusnya tapi sekarang dengan mudah menghilangkannya. Contohnya Khanduri Apam(kenduri serabi). Ini adalah kegiatan yang dilakukan di setiap gampoeng di aceh pada bulan bulan ketujuh dalam kalender aceh yang namanya buleun Apam atau sama dengan bulan Ra’jab dalam kalender hijriah. Jikalaupun ada kegiatan seperti ini hanya beberapa orang yang melakukan itupun orang tua yang pernah mengikutinya zaman dulu.


 Banyak budaya lainnya di aceh yang tidak diketahui lagi dan tertanam didalam dasar tanah atau mungkin di lautan yang luas. Seharusnya para muda-mudi yang melestarikan budaya semacam ini tapi karena perkembangan teknologi dan budaya luar yang masuk ke Aceh, sedikit demi sedikit terkikis budaya sendiri tergantikan dengan budaya luar.


Padahal didalam pendidikan itu bisa dibarengi dengan budaya, tapi kita mempunyai pendidikan yang masih rendah tidak ada harapan kecuali kemauan sendiri dalam melaksanakan amanah orang tua kita. Tapi ada beberapa sekolah yang mengadakan perlombaan budaya baik seni tari, seni musik, dan lainnya itu sudah cukup bagus untuk menjaga budaya kita. Seperti itulah salah satu cara untuk melakukan pembaruan budaya agar tidak hilang.


Semua orang ingin maju. Bahkan orangtua zaman dulu pun ingin yang terbaik untuk anaknya yaitu bisa melihat kebahagiaan darinya, salah satunya juga maju. Kita tidak bisa menghindar dari teknologi. Semua orang sekarang melakukan apapun dengan teknologi. Itulah salah satu negeri ini maju dengan teknologi. Jangan berpikir teknologi itu hanya membawa efek negatif pada penggunanya, ada banyak efek positifnya. Dengan teknologi kita bisa melakukan apapun yang memang dapat membantu kita. Dan kita bisa melakukan nya dengan memperbarui budaya melakukan teknologi. Misalkan membuat sebuah blog dimana ada berbagai macam informasi tentang budaya yang ada di Aceh, ataupun website tentang budaya di Aceh. Dengan membuat seperti itu kita sudah bepartisipasi dalam menjaga budaya kita sendiri.


Teknologi harus bisa di kendalikan, jangan sebaliknya teknologi yang mengendalikan penggunanya. Jika tidak ada kemauan untuk menjaga budaya maka lama kelamaan budaya itu akan menghilang. Dalam menjaganya tidak cukup untuk satu atau beberapa orang di butuhkan semua orang ikut bepartisipasi di dalamnya. Jangan cuman berdiam di suatu tempat, tapi ikutlah dalam menjaga tempat itu dengan mengenal budayanya.

Dimulai dari sekarang Aceh harus dibenahi, dilakukan pembaruan untuk lebih maju kedepannya. Baik itu dari segi Pendidikan Dan Kebudayaan. Sangat berharap Seperti Aceh pada zaman dulu dimana Aceh yang terkenal dengan semangatnya dalam memperjuangkan islam, adanya berbagai macam budaya, terlahir generasi muda yang gagah berani dan hal macam lainnya yang terdapat Aceh ini. Semua itu berkat kerja keras, kekompakan dan satu tujuan terciptalah aceh yang maju. Untuk sekarang tidak ada yang tidak mungkin semua bisa terjadi jika ada kemauan di dalamnya. Sesungguhnya Allah pernah berfirman: “Sesungguhnya aku tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. Itu firman Allah pasti, jadi berusahalah untuk merubahnya sendiri jangan terlalu berharap kepada orang lain, mulailah sendiri maka orang-orang akan memulainya juga. Keyakinan dan tujuan harus ada didalam hati untuk memulai dan melakukan.
Share:

Tuesday, 24 January 2017

KEHIDUPAN DIGITAL NATIVE DAN DIGITAL IMIGRANT

Di zaman secanggih sekarang ini tak heran jika seorang balita dapat memainkan gadget dan anak umur 3 tahun mengajari nenek nya cara mengirim email. Semakin hari kehidupan di bumi semakin maju dengan teknologi nya, jadi wajar saja manusia sekarang sangat bergantung dengan teknologi. Untuk keterkaitan teknologi sekarang ada istilahnya generasi Digital Native dan Digital Imigrant. 

Digital native merupakan generasi manusia yang sejak dia baru bisa menulis sudah mengenal yang namanya internet, sama halnya ketika dia kecil dan remaja kehidupan nya dipenuhi dengan gencarnya perkembangan teknologi. Sedangkan Digital Imigrant merupakan manusia yang masa kecilnya belum mengenal internet maupun komputer masa kecilnya belum gencar perkembangan tekologi. Zaman sekarang untuk membedakan keduanya bisa dilihat dari umur mereka. Digital native untuk zaman sekarang umur 24 kebawah sedangkan digital imigrant umur 24 keatas.

Kehidupan para digital native sangat berperan dalam perkembangan teknologi. Kehidupan mereka sehari-hari dipenuhi dengan berbagai macam teknologi baik itu internet, fashion, kuliner, produk hanphone, komputer dan media sosial. Keterkaitan mereka dengan teknologi tak bisa dipisahkan bahkan mereka bisa mempelajari sesuatu itu melalui teknologi tersebut misalkan media sosial. Media sosial tidak hanya diperuntukkan bagi kaum yang narsis tetapi juga sebagai wadah orang membagikan informasi yang di dapatkan dan di sebarkan melalui media sehingga orang lain juga mengetahuinya. Para digital native sangat aktiv dalam media sosial, baik itu yang memberikan informasi maupun yang mencari informasi. Mereka setiap saat ada hal yang mereka pikir begitu penting untuk dibahas dan berusaha untuk tidak melewatkannya sedikitpun.

Para generasi digital native cenderung lebih terbuka, blak-blakan, serta open minded. Jika mereka bilang suka, mereka bilang suka dan jika mereka tidak suka, mereka bilang tidak suka. Mereka juga merasa tidak masalah membuka apa yang di sebut oleh generasi sebelum mereka privasi, inilah yang dimaksud keterbukaan. Contoh mereka berlomba-lomba membuka kehidupan privasi mereka di media sosial misalkan facebook dengan menulis “gnite sayang (good nigth sayang)”, “love kamu”, “sedih baru putus” dan berbagai bahasa yang terkesan alay bagi generasi digital imigrant. Digital native gila akan akan kebebasan dan mereka tidak suka diatur dan dikekang. Digital native juga bebas untuk menolak atau menerima permintaan pertemanan di facebook. Sebaliknya, jika mereka mendukung sesuatu mereka akan berbondong-bondong mendukungnya dengan fanatik. Suatu media sukses berkat kepedulian generasi ini.

Dari segi  pemikiran dan proses belajar digital native jauh berbeda dengan digital imigrant. Para digital imigrant tidak akan percaya bahwa para digital native bisa belajar lewat menonton. Mereka mulai belajar lewat film yang ditonton baik itu animasi, action, drama, maupun tv serial. Mereka mulai belajar apa yang dilihatnya dan ini perlu kontrol dari orangtua agar anaknya menonton sesuatu yang bermanfaat baginya. Para digital native dalam belajar lebih menyukai santai tidak tegang tetapi serius. Mereka tidak suka dipaksa dan belajar kapan mereka mau. Mereka lebih banyak bermain tetapi pekerjaan mereka juga terselesaikan nantinya. Karena para digital native mendapatkan informasi begitu cepat, mereka dapat menyelesaikan banyak pekerjaan sekaligus. Dalam hal menyelesaikan sesuatu mereka lebih cepat dibandingkan digital imigrant yang lamban.


Karena hidup pada masa belum berkembangnya teknologi para digital imigrant jauh ketinggalan dengan digital native di bidang teknologi. Para digital imigrant hanya meluangkan waktu sesaat setelah bekerja di media guna untuk melihat informasi dan membuktikan pada dunia yang bahwa mereka ada di teknologi sekarang ini. Mereka tidak memiliki waktu luang banyak dalam media karena kesibukannya dalam bekerja. Dalam sistem belajar mereka menetapkan sistem terdahulu karena dianggap berhasil dimasanya maka diterapkan sampai sekarang. Dalam hal belajar para digital imigrant lebih serius, tegang dan lamban. Mereka bersifat memaksa agar bisa apa yang dipelajarinya dengan berusaha segiat-giatnya.

Karena berbeda pola pikir antara digital native dan imigrant maka terjadi kesalah pahaman dalam mengajar. Para digital imigrant seperti guru, dosen menerapan pembelajaran seperti terdahulu yang mereka pikir akan berhasil untuk digital native. Padahal bagi digital native itu sangat bosan dan mereka pikir kurang menarik. Jadi bagaimana solusinya ? solusinya hanya satu yaitu para digital imigrant berusaha untuk lebih memperdekatkan diri dengan teknologi dan mencoba melihat bagaimana penerapan pembelajaran yang memang cocok untuk digital native di zaman sekarang ini.

Kehidupan para digital native memang lebih modern akan teknologi dan informasi tetapi disini ada kelemahan juga dilihat dari segi kebudayaan. Mereka yang hidup di zaman teknologi yang maju pesat banyak melupakan kebudayaan nya. Dengan berkembangnya teknologi sekarang seakan kehidupan mereka tidak membutuhkan lagi yang namanya budaya, sudah terlupakan. Buktinya apapun yang berkenaan dengan budaya mereka hilang ingatan akan itu. Karena dari kecil sudah ditemani dengan gadget mereka tidak tahu bagaimana bermain engklek, petak umpet, kelereng, lompat tali gobak sodor dan banyak permainan tradisional lain yang hanya tinggal nama. Itu belum lagi kuliner, tradisi yang ada di daerah mereka masing-masing.

Di sinilah para digital imigrant berperan dan mereka bisa bekerja sama membantu satu sama lain. Kehidupan mereka bisa saling melengkapi. Para digital native bisa berperan di kehidupan digital imigrant untuk membantu mereka dalam menggunakan teknologi sedangkan para digital imigrant membantu digital native dalam memperkenalkan kebudayaan dan melestarikannya karena mereka hidup pada zaman nya kebudayaan berkembang. 
Share:

Saturday, 22 October 2016

FAKTA DI BALIK TARIAN SAMAN YANG MENDUNIA

Banyak sekali seni tari yang ada di Indonesia, salah satunya tari Saman yang berasal dari Provinsi paling barat Indonesia yaitu Aceh. Tari saman dianggap seni tari yang sangat unik di dalam negeri, bukan hanya karena gerakan badan yang kompak melainkan harmonisasi lagu dan paduan suara yang mengiringinya. Ini lah yang membuat tari saman tidak hanya terkenal di dalam negeri tapi juga terkenal manca negara. Baiklah saya akan membahas keunikan tari saman mulai dari sejarah, asal-usul, gerakan, lagu, dan paduan suaranya.


Asal Usul Dan Sejarah Tari Saman
            Tari Saman sudah ada sejak abad ke-14 di suku gayo yang dikembangkan oleh ulama besar pada saat itu yang bernama Syekh Saman. Tarian ini pertama hanyalah sebuah permainan rakyat yang bernama Pok Ane. Kemudian, dengan ditambahkan syair-syair dan berisi pujian kepada Allah SWT, dan iringi tepukan-tepukan penari saat itulah tari Saman banyak ditampilkan sebagai media dakwah.
            Pada saat masa kesultanan Aceh tari Saman hanya ditampilkan pada acara-acara tertentu seperti Maulid Besar Nabi Muhammad SAW. Dengan perkembangan zaman, sekarang saman juga ditampilkan di acara pernikahan, khitanan, dan acara hiburan lainnya.
            Sejak 24 November 2011, saman ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda asal indonesia oleh UNESCO dalam sidang keenam Komite Antar Negara di Bali. Tarian yang dalam bahasa inggrisnya dikenal dengan sebutan “Dance of Thousand Hand” ini sampai sekarang dilestarikan, tidak hanya orang suku Aceh Gayo, tapi seluruh masyarakat dunia yang mengagumi keunikannya.
Gerakan Tari Saman
            Awalnya tarian saman hanya dimainkan oleh kaum pria saja tidak lebih 10 orang, 8 orang penari dan 2 orang sisanya sebagai pemberi aba-aba. Namun, pada perkembangannya menyadari bahwa sebuah tarian akan lebih semarak jika dimainkan oleh banyak penari dan sekarang tari saman dimainkan lebih dari 10 orang.  Dan pada akhirnya wanita pun diizinkan untuk ikut serta dalam memainkan tari saman. Untuk menghasilkan sebuah tarian yang kompak maka dalam satu regu dipimpin oleh dua orang sebagai pemimpin yang di sebut Syekh. Syekh disini berperan dalam pengatur irama gerakan dan pemandu nyanyian atau syair-syair yang mengiringi tarian ini.


            Gerakan dalam tari saman terbagi dalam beberapa unsur yaitu gerakan tepuk tangan dan gerak tepuk dada, gerak guncang, gerak kirep, gerak lingang, gerak surang-saring. Nama-nama gerakan tari saman berasal dari bahasa Gayo. Yang membuat para penonton berdecak kagum menyaksikan tari saman yaitu harmonisasi gerakan dalam tarian ini yang mengalun cepat bersama syair-syair yang mengiringinya.  

Paduan Suara dan Lagu Tari Saman
            Berbeda dengan pertunjukan pada umumnya, pada pertunjukan tari saman yang asli, anda tidak akan menemukan iringan irama alat musik apapun. Satu-satunya irama yang digunakan untuk menyelaraskan gerakan tari ini suara dari penari itu sendiri. Mereka akan bertepuk tangan, bertepuk dada, paha, lantai dan terkadang ikut serta dalam menyanyikan syair untuk menghasilkan kekompakan dalam tarian.


            Untuk syair dan nyanyian lagu dalam tari saman merupakan sebuah pepatah dan nasihat yang begitu dalam. Syair-syair tersebut merupakan pesan moral ajaran islam yang seharusnya di resapi oleh para pendengarnya. Dalam melantunkan syair-syair tidak sembarangan, ada lima aturan yang harus di taati oleh syekh. Kelima aturan itu meliputi :
-Rengum atau auman yang diawali oleh pemandu.
-Dering yaitu rengum yang diikuti oleh semua penari.
-Redet yaitu lagu singkat dengan nada pendek yang dinyanyikan oleh salah satu penari di bagian tengah.
-Syekh atau lagu yang dinyanyikan dengan suara panjang tinggi sebagai perubahan gerakan.
-Saur atau lagu yang diulangi bersama oleh semua penari setelah dinyanyikan oleh penari solo.


            Makna dari tari saman itu sendiri melambangkan tingginya pendidikan, sopan santun, kebersamaan, kekompakan dan kepahlawanan masyarakat Aceh yang religius. Selain makna dari gerakan, tarian saman juga memiliki makna dalam setiap bait syair yang diucapkan syekh. Yang merupakan nasehat-nasehat dengan makna begitu dalam sebagai contoh moral yang baik.

Share:

Thursday, 6 October 2016

Tradisi Meugang di Aceh


Sejarah


            Indonesia mempunyai suku, bahasa, serta budaya yang beragam. Dari wilayah indonesia timur hingga ke barat serta utara sampai ke selatan mempunyai suku, bahasa, dan budaya yang berbeda-beda, jadi terkumpul lah berbagai macam suku, berbagai macam bahasa dan begitu pula dengan budaya itulah yang membuat negara indonesia kaya, bukan hanya karena sumber daya alamnya yang melimpah akan tetapi kaya akan juga budayanya.
            Diwilayah ujung utara pulau sumatera indonesia yaitu Nanggroe Aceh Darussalam ada suatu tradisi yang mulai dilakukan dari zaman kerajaan aceh sampai dengan sekarang yang disebut dengan sebutan Meugang atau Makmeugang.
            Meugang yaitu tradisi dimana menyembelih hewan qurban sapi dan kambing yang dilakukan tiga kali dalam setahun yakni bulan ramadhan, hari raya idul fitri dan hari raya idul adha. Selain sapi dan kambing, masyarakat aceh juga menyembelih ayam dan bebek pada hari meugang, ini dilakukan bagi masyarakat yang kurang suka akan daging dan harga daging yang terlalu mahal. Di desa, meugang dilakukan satu hari sebelum bulan ramadhan dan hari raya, sedangkan dikota dua hari sebelum bulan ramadhan dan hari raya.
            Tradisi meugang di Aceh sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun yang lalu dimulai sejak masa Kerajaan Aceh. Kala itu (1607-1636 M), Sultan Iskandar Muda memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagikan secara gratis kepada seluruh rakyatnya. Hal ini dilakukan oleh beliau sebagai rasa syukur atas kemakmuran rakyatnya dan sebagai rasa terimakasih kepada rakyatnya. Setelah Kerajaan Aceh ditaklukkan oeh Belanda pada tahun 1873, tradisi ini tidak lagi dilaksanakan oleh Raja. Namun, karena hal ini telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Aceh, maka meugang tetap dilaksanakan hingga saat ini dalam kondisi apapun(sumber :https://id.wikipedia.org/wiki/Meugang).

Cara Mendapatkan Daging


            Di Aceh, saya misalkan di pasar Padang Tiji, Kab. Pidie pada hari meugang kondisi pasar ramai oleh pengunjung dimulai dari subuh sampai dengan siang. Daging yang dijual berupa daging kerbau, sapi dan kambing. Kita bisa melihat daging yang sudah dikuliti bertumpukan diatas meja dan juga digantung-gantung. Sepanjang jalan berderet orang mejual daging dan menawarkan kepada para pembeli agar mau membelikan dagangannya. Para pembeli pun sibuk memilih daging-daging yang bagus untuk dibeli. Komunikasi antara pedagang dan pembeli tak ada habisnya, kita bisa dengar keriyuhan pasar pada hari meugang dimana orang bersuara tak ada yang diam demi mendapatkan setumpuk daging yang berkualitas yang akan dibawa pulang kerumah untuk keluarganya.
           Sekarang kita tahu harga daging sangat mahal berkisar antara Rp 170.000/kg – Rp 180.000/kg, tapi apalah dikata walaupun harganya tidak sesuai dengan isi kantong masyarakat Aceh tetap rela berdesak-desakan dipasar demi mendapatkan setumpuk daging untuk keluarganya. Karena pada hari meugang tersebut masakan daging dirumah kewajiban bagi masyarakat Aceh.
         Selain daging di beli ada juga hasil qurban dari orang-orang mampu yang disembelih dan khusus dibagikan untuk orang-orang fakir miskin. Inilah yang membantu orang-orang yang tidak sanggup membeli daging, dengan bahagia dapat juga merayakan hari meugang seperti yang dilakukan orang lain.
           
Memasak daging
Daging yang telah dibeli dimasak dengan berbagai macam masakan, seperti rendang. Makanan khas indonesia ini telah diakui dunia sebagai makanan terenak mengalahkan makanan lainnya. Rendang sendiri adalah masakan daging bercitarasa pedas dengan campuran bumbu dan rempah-rempah. Masakan ini dihasilkan dari proses memasak yang dipanaskan berulang-ulang dengan santan kelapa. Proses memasaknya memakan waktu berjam-jam (biasanya sekitar empat jam). Selain rendang masih banyak masakan lainnya dari daging yang telah dibeli. Namun daging-daging yang telah didapat tidak semua dimasak sekaligus, ada namanya pengawetan daging yaitu dendeng. Masyarakat Aceh menyebutnya dengan sie tho (daging kering). Pengawetan ini dilakukan dengan cara mentaburi garam dan dijemur yang menghasilkan daging berasa asin.
Setelah daging meugang selesai dimasak, maka anggota keluarga berkumpul dan menyantap hasil masakan berbagai macam olahan daging. Tentu saja hari meugang tersebut adalah hari berbahagia bersama keluarga dan kerabat, karena disuguhkan masakan istimewa.

Nilai Religius      
Meskipun daerah Aceh sangat kental dengan nilai religiusnya, tradisi meugang bukanlah murni ajaran Islam, akan tetapi ia merupakan sebuah aplikasi pengamalan Islam dalam bentuk budaya. Melaksanakan tradisi meugang bukanlah sebuah kewajiban, akan tetapi merupakan sebuah keharusan bagi orang Aceh yang mesti dilaksanakan. Untuk meyakinkan bahwa tradisi meugang ini adalah sebuah tafsir agama, kita dapat melihat beberapa hal yang melatar belakangi adanya tradisi meugang, yaitu (1) Meugang dilaksanakan menyambut bulan puasa, hari raya idul fitri dan hari raya idul adha. (2) Meugang dimanfaatkan bagi orang dermawan untuk bersedekah. (3) Meugang menjadi bentuk silaturrahmi antara keluarga dan kerabat(sumber :http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2294/tradisi-meugang).
Tradisi meugang di Aceh salah satu tradisi yang unik yang telah dilakukan sejak lama. Meugang sendiri membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar Aceh. Berbagai keadaan berubah menjadi lebih baik di hari meugang tersebut. Baik itu kebersamaan bersama keluarga, bersedekah kepada yang membutuhkan dan masih banyak keadaan yang membahagiakan. Kita bisa melihat pada hari meugang suasana begitu ramai serta kita pun dapat merasakan ikut dalam keramaian tersebut. Dihari-hari lain kita tidak pernah merasakan bagaimana mencicipi masakan daging bersama-sama dengan keluarga tapi dihari meugang kita bisa mendapatkan momen tersebut. Dan bagaimana kita bisa melihat para fakir miskin dapat merasakan setumpuk daging dari tetangga maupun kerabatnya yang di sedekahkan untuknya agar mereka satu keluarga juga bisa merasakan suasana meugang bukan hanya mencium aroma masakan dari tetangga saja tetapi ikut memasak dan makan bersama keluarga seperti keluarga umumnya di Aceh.
Dengan adanya tradisi meugang ini, kehidupan masyarakat Aceh makmur. Dikarenakan dalam bulan tertentu masyarakat dapat mencicipi daging walaupun hanya tiga kali dalam setahun. Masyarakat Aceh sendiri sangat senang dengan tradisi meugang, bisa kita lihat walaupun harga daging melonjak drastis meugang tetap terlaksana tidak ada kata berhenti. Semoga tradisi ini terus berlanjut sampai tidak ada kata berhenti, karena tradisi meugang ini memiliki nilai-nilai religius dan sosial yang tinggi yang tidak terdapat pada tradisi lainnya.



Share:

Wednesday, 5 October 2016

Gunongan : Bukti Kejayaan Aceh Pada Masanya


 Sejarah
             
               Bila India punya Taj Mahal, Thailand ada Prasat Hin Phimai dan Durban dengan Kastil Stratford-nya sebagai simbol cinta kasih, di Banda Aceh ada Gunongan. Gunongan artinya gunung, bangunan berupa gunungan yang dipersembahkan Sultan Iskandar Muda kepada permaisurinya Putri Kamaliah dari Negeri Pahang, Malaysia. Putri Kamaliah atau lebih dikenal dengan Putroe Phang diboyong Sultan Iskandar Muda ke Aceh setelah menaklukkan Pahang, Malaysia. Saking cintanya pada permaisuri dari Pahang, Sultan Iskandar Muda memenuhi permintaan Putroe Phang dan membuatkan baginya taman sari.


         Pada masa itu, pada tahun 1613 dan tahun 1615 melalui penyerangan dengan kekuatan ekspedisi Aceh 20.000 tentara laut dan darat, Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Utara Melayu. Sebagaimana tradisi pada zaman dahulu, kerajaan yang kalah perang harus menyerahkan glondong pengareng-areng (rampasan perang), upeti dan pajak tahunan. Di samping itu juga harus menyerahkan putri kerajaan untuk diboyong sebagai tanda takluk. Putri boyongan itu biasanya diperistri oleh raja dengan tujuan untuk mempererat tali persaudaraan dari kerajaan yang ditaklukkannya, sehingga kerajaan pemenang menjadi semakin besar dan semakin kuat kedudukannya. Penaklukan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Melayu berpengaruh besar terhadap diri Iskandar Muda. Putri boyongan dari Pahang yang sangat cantik parasnya dan halus budi bahasanya membuat Sultan Iskandar Muda jatuh cinta dan menjadikannya sebagai permaisuri. Demi cintanya yang sangat besar, Sultan Iskandar Muda bersedia memenuhi permintaan permaisurinya untuk membangun sebuah taman sari yang sangat indah, lengkap dengan Gunongan sebagai tempat untuk menghibur diri agar kerinduan sang permaisuri pada suasana pegunungan di tempat asalnya terpenuhi.

Bagian-bagian Gunongan     


        Gunongan adalah bagian dari suatu kompleks yang lebih luas, yaitu Taman Ghairah, yang merupakan bagian dari taman istana. Di kompleks ini sekarang hanya tersisa empat buah bangunan, yaitu (1) Gunongan itu sendiri; (2) Leusong (lesung batu) terletak di kaki Gunongan; (3) Kandang, sebuah bangunan empat persegi di bagian utara di arah timur laut sepanjang sungai Krueng Daroy; dan (4) Pinto Khop adalah sebuah pintu gerbang berbentuk kubah yang dulunya menghadap istana dan menghubungkan taman dengan alun-alun istana. Hanya anggota keluarga istana kerajaan yang diizinkan melewati pintu gerbang ini. Adapun detail dari bagian dari Taman Sari Gunongan itu adalah :
1) Gunongan berdiri dengan tinggi 9,5 meter, menggambarkan sebuah bunga yang dibangun dalam tiga tingkat. Tingkat pertama terletak di atas tanah dan tingkat tertinggi bermahkota sebuah tiang berdiri di pusat bangunan. Keseluruhan bentuk Gunongan adalah oktagonal (bersegi delapan). Serambi selatan merupakan lorong masuk yang pendek, tertutup pintu gerbang yang penyangganya sampai ke dalam gunung.

2) Penterana merupakan batu berukir berupa kursi bulat berbentuk kelopak bunga yang sedang mekar dengan lubang cekung di bagian tengah. Kursi batu ini berdiameter 1 m dengan arah hadap ke utara dengan tinggi 50 cm. Sekeliling penterana batu berukir berhiaskan arabesque berbentuk motif jaring atau jala. Penterana batu berukir berfungsi sebagai tahta tempat penobatan sultan.

3)Kandang Baginda merupakan sebuah lokasi pemakaman keluarga sultan Kerajaan Aceh, di antaranya makam Sultan Iskandar Tsani (1636-1641) sebagai menantu Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dan istri Sultanah Tajul Alam (1641-1670). Bangunan kandang berupa teras dengan tinggi 2 m dikelilingi oleh tembok dengan ketebalan 45 cm dan lebar 18 m. Bangunan ini dibuat dari bahan bata berspesi kapur serta berdenah persegi empat dengan pintu masuk di sisi selatan.

4) Medan Khairani merupakan sebuah padang luas di sisi barat Taman Ghairah yang pernah dihiasi dengan pasir dan kerikil yang dikenal dengan nama sebutan kersik batu pelinggam. Sebagian besar lahannya kini digunakan sebagai Kerkoff, kompleks makam Belanda yang juga disebut Pocut. Kompleks makam ini digunakan untuk mengubur prajurit Belanda yang gugur dalam Perang Aceh pada tahun 1873-1902.

5) Balai merupakan bangunan yang banyak dibangun di dalam Taman Ghairah. Dalam Bustan as Salatin diuraikan mengenai lima unit balai dengan halaman pada tiap-tiap balai beserta teknik pembangunan dan kelengkapan ragam hiasnya. Balai merupakan bangunan panggung terbuka yang dibangun dari kayu dengan fungsi yang berbeda-beda. Balai-balai tersebut antara lain Balai Kambang tempat peristirahatan, Balai Gading tempat kenduri dilaksanakan, Balai Rekaan Cina tempat peristirahatan yang dibangun oleh ahli bangunan dari Cina, balai keemasan tempat peristirahatan yang dilengkapi dengan pagar keliling dari pasir, dan Balai Kembang Caya. Namun, dari balai-balai yang disebutkan tersebut tidak satu pun yang tersisa.

6) Pinto Khop (Pintu Biram Indrabangsa) secara bebas dapat diartikan sebagai pintu mutiara keindraan atau kedewaan/raja-raja. Di dalam Bustan as Salatin disebut dengan Dewala. Gerbang ini dikenal pula dengan sebutan Pinto Khop, merupakan pintu penghubung antara istana dengan Taman Ghairah. Pintu Khop ini terletak pada sebuah lembah sungai Darul Isyki. Dugaan sementara, tempat ini merupakan tebing yang disebutkan dalam Bustan as Salatin dan bersebelahan dengan sungai tersebut. Dengan adanya perombakan tata kota Banda Aceh dewasa ini, kini pintu tersebut tidak berada dalam satu kompleks dengan Taman Sari Gunongan. Bangunan pintu Khop dibuat dari bahan kapur dengan rongga sebagai pintu dan langit-langit berbentuk busur untuk dilalui dengan arah timur dan barat. Bagian atas pintu masuk berhiaskan dua tangkai daun yang disilang, sehingga menimbulkan fantasi (efek) stiliran figur wajah dengan mata dan hidung serta rongga pintu sebagai mulut.

Lokasi


Gunongan yang berlokasi di Banda Aceh tepatnya di Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman merupakan bukti sejarah Aceh pernah berjaya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Kehidupan masyarakat yang begitu makmur dan tenteram karena pemerintah sangat memperhatikan rakyatnya, sehingga terbentuklah suatu negara yang di kenal dengan Serambi Mekkah dimana masyarakat yang tidak kalah hidup bahagia seperti para raja. Kemakmuran Aceh pada saat itu terkenal hingga ke seluruh dunia, hingga muncul berbagai cobaan yang melanda Aceh hingga akhirnya pemerintahan yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda ditaklukkan oleh sekelompok orang-orang yang tamak yang menghancurkan kerajaan demi segenggam emas dan kekayaan yang ada di Aceh hingga Aceh mengalami keruntuhan. Sekarang kita hanya dapat mengenang sejarah yang mana bahwa Aceh dulunya tidak kalah hebat daripada kerajaan yang pernah ada di dunia.




                                                                                        
Share:

Sunday, 22 May 2016

Menikmati Indahnya Panorama Waduk Rajui

Pemandangan Waduk Rajui

       Taukah anda gambar apa diatas itu? Itu tidak asing lagi dimata masyarakat terutama di kecamatan Padang Tiji. Itu merupakan wisata terfavorit bagi masyarakat sekitarnya terutama kaum remaja. Nama tempat itu RAJUI. Tempat itu di bangun pada tahun 2010 dan selesai dikerjakan pada tahun 2012 lalu, yang bertujuan sebagai tempat penampungan air(bendungan) untuk dialiri ke sawah-sawah petani. 
         
    Waduk tersebut merupakan tipe bendungan urugan homogen yang mampu menampung air genangan sebesar 2.673.450,63 m3, dengan luas genangan mencapai 33,60 Hektare dengan tinggi bendungan 41,20 m dan air yang mengalir ke bendungan itu bersumber dari Krueng Rajui dan Alu Tanjong, Kecamatan Padang Tiji, dengan aliran 0,160-2,176 m3/detik. Waduk Rajui ini sebagai pendukung program swasembada pangan di Kabupaten Pidie. Waduk senilai Rp 99,2 M yang didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara(APBN) tahun 2010 itu diperkirakan dapat mengairi 1000 Hektare areal sawah di Kecamatan Padang Tiji, Batee dan Sekitarnya. Tapi hingga kini belum dioperasikan karena masih menjalani masa running test yang mana itu salah satu syarat untuk operasional sebuah waduk yang berukuran besar. Waduk rajui nantinya pengoperasian di bawah kendali Dinas Sumber Daya Air, Provinsi Aceh dan dibawah pengawasan Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) I di Banda Aceh, sedangkan Kabupaten Pidie hanya sebagai lokasi waduk(sumber :http://wadukrajuisigli.hol.es/information/). 

       Selesai dibangunnya Waduk Rajui itu banyak orang yang datang mengunjunginya, tujuannya bermacam-macam ada yang memancing, berkumpul sama kawan, jalan-jalan dan menikmati sunset. Kebanyakan yang datang pada sore hari karena pemandangan dengan sunset nya yang menawan. Untuk kesana saat ini masih gratis tidak ada pembelian tiket untuk masuk seperti di tempat wisata lain. Untuk menuju ke waduk rajui sangatlah mudah dan tidak terlalu jauh dari jalan nasional Banda Aceh-Medan. Kalau dari arah Banda Aceh, jalan untuk waduk rajui berada disebelah kanan setelah turunan yang disamping kirinya komplek militer Rencong Sakti. Bila sudah belok ke jalan yang dimaksud tadi, ikuti saja jalan itu sampai ke Waduk Rajui. Jalannya cukup bagus dengan pemandangan kebun masyarakat sekitar. Dari jalan Banda Aceh-Medan ke Waduk Rajui berjarak sekitar 2-3 KM dan jalan aspalnya mulus tanpa hambatan.

         Walaupun tempatnya di dalam hutan, tapi tetap ramai dengan pengunjung serta perkebunan masyarakat sekitar. Di tempat itu ada juga warung yang menjual makanan ringan serta air minum, tidak salah bila sobat-sobat yang ingin menikmati alam pegunungan bisa mendatangi tempat ini. Sobat-sobat yang ada jiwa memancing juga bisa ke waduk ini karena menurut pengamatan banyak terdapat ikan di Waduk Rajui, dan yang paling penting camera nya jangan lupa dibawa, karena itu hal paling pokok bila kita ke suatu tempat wisata untuk mendokumentasi saat-saat indah bersamanya. 


Baca Selanjutnya: MASJID RAYA BAITURRAHMAN Sebagai LANDMARKNYA ACEH

Share:

Wednesday, 30 March 2016

Perpustakaan Unsyiah Sumber Ilmu Bagi Mahasiswa



             Siapa sangka jadi mahasiswa itu tidak selalu membosankan, bagi kami yang mempunyai semangat dalam menuntut ilmu perkataan ‘membosankan’ itu hanyalah mitos. Selain adanya pendidikan terdapat pula berbagai pengalaman didalamnya. Setidaknya pendidikan dan pengalaman itu sedang aku rasakan di tempat ini yaitu Universitas Syiah Kuala(Unsyiah) salah satu kampus Jantong Hatee Rakyat Aceh. Selama aku menempuh pendidikan di unsyiah berbagai hal baru aku rasakan mulai dari pendidikan, kehidupan, pengalaman, pertemanan semua itu dapat kurasakan di Darussalam akrab dengan sebutan Kopelma (Kota Pelajar Mahasiswa) ini.
          Memasuki kawasan kopelma terlihat jelas gedung-gedung yang menjulang tinggi melewati pepohonan yang tumbuh di samping nya seakan itulah landmark daerah tersebut sesuai namanya kopelma kota untuk para pelajar. Gedung-gedung itulah tempat bagi mahasiswa yang kehausan akan ilmu berada.
            Gedung ini salah satunya. Bangunan yang begitu megah dengan warna putih menjulang tinggi ke angkasa, di kelilingi taman-taman kecil disekitarnya tempat para mahasiswa berbincang, berdiskusi, beristirahat terlihatlah seakan dia yang terbagus diantara yang bagus. Pondasinya yang kuat didukung dengan enam tiang putih besar menjulang tinggi keatap gedung  terlihat dari depan gedung berdiri kokoh dalam menanggung beban besarnya gedung tersebut. Inilah gedung itu Perpustakaan Unsyiah.

Gambar. UPT.Perpustakaan Universitas Syiah Kuala
          

        Karena penasaran merasuki otakku maka kuputuskan untuk masuk kedalamnya. Kulihat dua orang laki-laki dengan baju seragamnya berwarna coklat tua duduk ditempat parkiran sambil mengamati banyaknya sepeda motor berderet rapi diluar perpustakaan seperti gedung ini tempat favoritnya bagi mahasiswa. Aku pun melangkah diatas lantai yang berkeramik putih didepan pintu kaca hitam yang bertuliskan “Tarik” dan juga kulihat tulisan yang menempel “Buka” dipintu tersebut.
          Kutarik pintu sesuai perintah pintu tersebut dan terhembuslah angin yang begitu dingin dari Air Conditioner (AC) berkapasitas besar terletak diatap gedung menghempas wajahku dan seluruh tubuhku ah begitu dingin dan nyaman. Kulihat sekeliling begitu luas ada sederet tempat duduk untuk menunggu antrian yang panjang dilengkapi televisi dengan monitor tipisnya menenempel di dinding sebagai obat kejenuhan mahasiswa jika panjang antrian, disebelah kanan terdapat juga lemari berwarna kuning yang kuncinya bergantungan tempat mahasiswa menitipkan tas. Tak jauh dari lemari ada sebuah kantin kecil serbaguna yang menyediakan berbagai keperluan mahasiswa seperti peralatan tulis-menulis, meng-copy, serta makanan ringan sebagai pengunyahan mahasiswa saat mengerjakan berbagai tugas di dalam perpustakaan.
          Kulihat mahasiswa yang mengantri mengeluarkan kartu hijau tua yang kami sebut KTM (kartu tanda mahasiswa) dan menyerahkannya kepada penjaga wanita yang sedang duduk disana bisa di panggil kakak tidak terlalu tua dan memakai jilbab coklat serta pakaian dinasnya yang juga warna serupa dengan jilbab duduk di sebuah kursi yang tugas nya mengambil KTM, dan meng-scan kesebuah alat canggih kecil yang mengeluarkan sinar merah tepat diatas KTM dan nampak lah di komputernya data orang lengkap dengan foto yang sedang berdiri di sampingnya itu. Setelah itu disuruhnya masuk, begitulah seterusnya.
          Aku pun berada di lantai satu dimana aku bisa melihat rak buku berwarna putih berdiri dengan rapi sejajar. Terdapat enam rak buku yang memanjang kebelakang dan keenam rak tersebut bertuliskan “Ilmu Sosial” dan ada pembagian judul lagi dalam satu judul tersebut. Begitu banyak buku, bermacam-macam buku kawan sampai aku bingung mau mulai dari rak mana. Dan kulihat pula ada disebelah kanan rak terdapat beberapa kursi dan meja sebagai tempat mahasiswa ada yang membaca, menulis, dan membuka laptopnya mungkin dia lagi mencari tugasnya yang tidak terdapat di rak-rak tadi. Oh iya di perpustakaan unsyiah selain menyediakan segala jenis buku yang dibutuhkan mahasiswa juga ada tersedianya wi-fi yang bisa terhubung ke laptop maupun android mahasiswa secara gratis dan dengan mudahnya mahasiswa menemukan apa yang dibutuhkankannya melalui pencarian mbah Google katanya.
          Disebelah kiri rak terdapat tiga meja putih yang terhubung dan lengkap dengan tiga kursi yang berwarna hitam-orange. Terdapat pula di meja tersebut sekat yang membatasi antara tiga meja yang panjang tadi dengan tiga meja di depannya, tinggi sekat kira-kira diatas kepala mahasiswa jika mereka duduk. Jadi dalam satu sekat panjang terdapat enam meja dan enam kursi. Terdapat dua puluh empat meja dan dua puluh empat kursi, banyak juga mahasiswa yang duduk disini dipenuhi barang-barang mereka diatas meja. Kulihat disamping kirinya terdapat ruang baca yang sepertinya buku-buku penting dan langka susah didapat ditempat lain karena tertera tulisan diatas ruang masuk “Pinjam Singkat”. Dalam urusan pinjam-meminjam buku ada tempat peminjaman mandiri yang letaknya dilantai satu dekat tangga. Mahasiswa hanya perlu berdiri didepan mesin canggih tersebut sebesar ATM dan mengeluarkan KTM serta buku yang ingin dipinjam.
          Sesudah aku berkeliling melihat-lihat dilantai satu aku menuju lantai dua melalui tangga sebelah kanan dan dekat tangga ada struktur organisasi perpustakaan yang tertempel di dinding lengkap dengan jabatan dan foto mereka yang bertugas di perpustakaan. Pas letaknya nya di sebelah kiri tangga terdapat ruang kecil yang menyediakan berbagai aksesori, baju, topi, dan berbagai barang yang berhubungan dengan seni karya mahasiswa terdapat disana, sangat kreatif.
          Setelah kakiku menyentuh lantai dua kulihat suasana beda, ruangannya begitu luas. Terdapat banyak kursi dan meja, disamping meja dan kursi terdapat lima belas rak yang berderet begitu rapi yang memanjang ke belakang. Di rak lantai dua terdapat perbedaan judul dengan rak lantai satu. Di rak lantai dua buku lebih dominan ke Teknologi baik di pertanian, teknik, kedokteran dan masih banyak lainnya. Terdapat juga ruang senyap suara jika ada mahasiswa yang ingin berdiskusi maka disinilah tempatnya, sebesar apapun suara didalam ruang ini tidak akan terdengar keluar. Dan disamping ruang senyap suara terdapat musolla agak jauh kedepan terdapat toilet. Perpustakaan unsyiah memiliki tiga lantai jadi aku tidak ingin berlama-lama di lantai dua aku pun melangkah naik ke lantai tiga.

Gambar. Mahasiswa sedang belajar di salah satu ruangan pustaka
          

         Cukup menantang bagi ku untuk sampai ke lantai tiga dengan cara menaiki tangga sebuah olahraga kecil yang menyehatkan, hanya saja hari ini tidak terburu-buru tidak harus mengejar waktu jadi bisa santai. Di ruangan ini terlihat rak dimana-mana seperti ruangan yang begitu penting dan terletak paling atas diatas ruangan yang lain. Aku mengambil satu buku yang terletak diatas rak yang berderet rapi kubaca nama pengarangnya tere-liye ahh betapa beruntungnya disinilah terdapat berbagai buku yang ingin kubaca. Ada beberapa novel terdapat di rak ini hanya saja terbatas jumlahnya. Di samping kanan rak terdapat ruangan yang serba korea lengkap baju, buku, sepatu dan berbagai macam aksesori yang dominannya korea.
          Akupun berbalik kulihat kedepan sebelah kiriku skripsi yang tersusun rapi diatas rak. Dan disebelah kananku ada seorang  petugas wanita yang duduk di sebuah kursi seperti sedang menunggu tamu penting lengkap dengan buku tamu terletak diatas meja dihadapannya. Wanita itu separuh baya memakai baju dinas kuning-kecoklatan dan berjilbab coklat menambah kesan orang selalu menjaga kerapiannya. Aku melangkah kedalam ruangan tersebut setelah mengisi buku tamu itu dengan data nama, fakultas dan tujuan akupun masuk dan kulihat Jurnal dari tangan-tangan alumni unsyiah berderet rapi diatas rak. Kuambil satu sesuai jurusanku coba memahami jurnal itu, setelah sesaat kubaca seakan aku ingin menemui langsung si penulis jurnal dan menyuruhnya mengajariku, dalam hatiku berkata: begitu pintarnya dia.
          Begitu luas perpustakaan unsyiah butuh waktu lama untukku bisa berkeliling melihat-lihat seluruh isinya. Aku pun turun dan di lantai dua kulihat seorang laki-laki bisa dipanggil bapak-bapak dengan baju batik kuningnya serta celana hitam kainnya dilengkapi kaca mata di wajahnya yang menambah kesan pintar dari bapak tersebut, dia berjalan sambil memberikan senyuman ramahnya ke pada para mahasiswa yang lewat, beliaulah Kepala UPT. Perpustakaan Unsyiah Dr. Taufiq Abdul Gani M.Eng, Sc. Beliau menjabat sebagai kepala perpustakaan unsyiah dari periode 2012 sampai sekarang. Selama jabatannya sebagai kepala beliau telah melakukan banyak hal dan memberi perubahan terhadap perpustakaan unsyiah. Menurut hasil tim pantauan di lapangan tercatat mulai 1 Oktober 2015 pengungjung ke pustaka unsyiah mencapai 2.461 per harinya. Ini merupakan rekor baru bagi UPT. Perpustakaan Unsyiah sejak didirikannya 46 tahun yang lalu (Sumber: http://library.unsyiah.ac.id/). Hanya ada tiga kata dariku: hebat, lengkap dan gratis. Gratis. Iya kata yang tepat. Masuk kedalam gedung megah itu hanya berbebekal dengan KTM. Dan jika tidak ada KTM bagi mahasiswa lain yang bukan mahasiswa unsyiah ataupun masyarakarat umum harus ada KTP sebagai data diri untuk bisa masuk kedalam.
          Akupun terus berjalan dan membuka pintu kaca hitam yang berdiri tegak di hadapanku. Tepat berdiri di depan gedung pustaka matahari kembali bisa menyengatku dengan sinarnya setelah sekian lama aku berlindung di bawah atap gedung bertiang ini. Sambil memandang gedung megah itu aku berkata dalam hati: bagaimana bisa gedung yang dari luarnya terlihat sepi dan tak berpenghuni tapi didalamnya begitu ramai sangat ramai dipenuhi berbagai macam orang dari berbagai pelosok yang ada di kopelma ini, setelah berpikir agak lama dan karena telah turut hadir kedalam pustaka aku hanya bisa menjawab: karena yang hilang dan yang dicari serta yang diperlukan bersemanyan didalam perut gedung megah ini.
         
         



         
         
           

          
Share:
Powered by Blogger.

Kunjungi Profil Lengkap Saya